1. Menhir
Menhir
Menhir adalah batu tunggal (monolith) yang
berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM-2000 SM) yang berdiri tegak di
atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men (batu) dan hir(panjang). Menhir biasanya didirikan secara tunggal
atau berkelompok sejajar di atas tanah. Diperkirakan benda prasejarah ini
didirikan oleh manusia prasejarah untuk melambangkan phallus, yakni simbol
kesuburan untuk bumi.
Menhir adalah batu yang serupa dengan dolmen dan cromlech, merupakan batuan
dari periode Neolitikum yang umum ditemukan di Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol
dan Italia. Batu-batu ini dinamakan juga megalith (batu besar) dikarenakan
ukurannya. Mega dalam bahasa Yunani
artinya besar dan lith berarti batu. Para arkeolog mempercayai bahwa situs ini digunakan
untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan
arwah nenek moyang.
2. Dolmen
Dolmen
Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh
nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Dolmen yang
merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya,
Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115
cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian tidak
menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan di
antaranya adalah manik-manik dan gerabah. pada umumnya dolmen banyak ditemukan
di Jawa Timur dan Sumatera Selatan.
3. Sarkofagus
Sarkofagus
Sarkofagus adalah suatu tempat untuk menyimpan jenazah. Sarkofagus umumnya dibuat dari
batu. Kata “sarkofaus” berasal dari bahasa Yunani σάρξ (sarx, “daging”) dan φαγεῖνειν(phagein,”memakan”), dengan demikian sarkofagus bermakna “memakan daging”.
Sarkofagus sering disimpan di atas tanah oleh karena itu sarkofagus
seringkali diukir, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat
berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara
beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Di Mesir
kuno, sarkofagus merupakan lapisan perlindungan bagi mumi keluarga kerajaan dan
kadang-kadang dipahat dengan alabaster
Sarkofagus – kadang-kadang dari logam atau batu kapur – juga digunakan oleh
orang Romawi kuno sampai datangnya agama Kristen yang mengharuskan mayat untuk
dikubur di dalam tanah.
4. Kubur batu
Kubur batu
Berupa peti-peti kubur yang terbuat dari batu dan tidak ditanam dalam
tanah, tapi diletakkan di atas tanah lapang. Bentuknya bisa persegi panjang
atau kubus, dengan ketinggian berkisar 150 cm di atas tanah. Pada bagian
atapnya dipahat aneka ragam hias yang menggambarkan wajah pria, dewa-dewa
maupun atap rumah.
Menurut kepercayaan setempat di masa itu, orang wafat harus ‘dipulangkan’
ke alam baka sebagaimana posisinya dalam rahim. Hingga mereka tidak berbaring
telentang, tapi dibuat dalam kondisi seperti janin, yaitu meringkuk atau
disebutfoetal position.
5. Waruga
Waruga
Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan
terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah
dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.
6. Punden Berundak
Punden Berundak-undak
Punden berundak-undak adalah beberapa balok batu yang disusun secara
berundak-undak. Satu buah balok batu berukuran 40 x 40 cm. Panjangnya
sekitara enam meter. Pada lapisan bawah disusunlah balok sebanyak delapan buah.
Pada lapisan kedua disusun pula balok batu sebanyak tujuh buah, pada lapisan
ketiga disusun enam buah, pada lapisan ke empat disusun sebanyak lima buah dan
seterusnya. Hingga pada puncaknya diletakkan sebuah balok.
Punden berundak-undak berfungsi sebagai tempat mengadakan saji-sajian bagi
masyarakat purba yang masih beragama animisme dan dinamisme. Dengan tujuan
untuk menolak bahaya atau semacam bencana seperti gempa bumi, angin rebut,
penyakit menular dan sebagainya. Dan juga bisa sebagai meminta rahmat dari sang
ESA. Seperti minta hujan, minta kesuburan tanah dan sebagainya.
7. Arca
Arca
Arca adalah patung yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan
dalam memuja tuhan atau dewa-dewinya. Arca berbeda dengan patung pada umumnya,
yang merupakan hasil seni yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan. Oleh
karena itu, membuat sebuah arca tidaklah sesederhana membuat sebuah
patung.Dalam agama Hindu, arca adalah sama dengan Murti (Dewanagari):, atau
murthi, yang merujuk kepada citra yang menggambarkan Roh atau Jiwa Ketuhanan (murta). Berarti “penubuhan”, murti adalah perwujudan aspek ketuhanan
(dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu, kayu, atau logam, yang berfungsi
sebagai sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam pemujaan. Menurut
kepercayaan Hindu, murti pantas dipuja sebagai fokus pemujaan kepada Tuhan
setelah roh suci dipanggil dan bersemayam didalamnya dengan tujuan memberikan
persembahan atau sesaji. Perwujudan dewa atau dewi, baik sikap tubuh, atribut,
atau proporsinya harus mengacu kepada tradisi keagamaan yang bersangkutan
8. Lesung batu
9.kalamba